asuhan keperawatan kolera


BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Diare akut didefinisikan sebagai keluarnya buang air besar satu kali atau lebih yang berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang dari empat belas hari. Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal, biasanya ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi buang air besar lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa lendir dan darah. (Hidayat,2006)

Adanya bahan makanan yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi penyerapan air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga terjadi diare. Bakteri non-patogen (bakteroides, laktobasilus, klostridium) di dalam lumen usus halus (sering disebut flora usus) dapat menyebabkan diare. Normalnya melalui proses fermentasi bakteri non-patogen usus memetabolisir berbagai macam substrat terutama zat – zat makanan dengan hasil akhir asam lemak dan gas.

Metabolisme anaerob ini akan memberikan tambahan energi bagi tubuh. Akibat stasis usus, obstruksi dan malnutrisi menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah bakteri non-patogen sehingga pada proses fermentasi zat makanan menghasilkan metabolit yang tidak diinginkan oleh tubuh. Sebagai contoh : laktosa (dari susu) merupakan makanan yang baik bagi bakteri non-patogen. Laktosa akan difermentasikan menghasilkan gas lambung dan menyebabkan distensi.

Akibat dari tingginya konsentrasi laktosa menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat. Keadaan hiperosmolar ini akan menyerap air dari intra selluler yang diikuti dengan peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare

  1. 1. TUJUAN

Tujuan dari pembuatan  makalah ini asuhan keperawatan ini adalah untuk membahas mengenai cara mendiagnosis dini dan mekanisme terjadinya KOLERA pada anak.

2. MANFAAT

Manfaat dari asuhan keperawatan anak dengan PENYAKIT KOLERA Ini bermanfaat untuk melakukuan askep yang valid mulai dari pengkajian, diagnose keperawatan, proses kaperawatan, implementasi, evaluasi.

BAB II

TINJAUAN TEORI

  1. 1. KONSEP DASAR TEORI
  2. A. DEFINISI

Diare adalah defekasi encer lebih dari tiga kali sehari dengan/tanpa darah dan/atau lendir dalam tinja. Diare akut adalah diare yang terjadi secara mendadak dan berlangsung kurang dari 7 hari pada bayi dan anak yang sebelumnya sehat. (Mansjoer, 2005).
Diare akut didefinisikan sebagai keluarnya buang air besar satu kali atau lebih yang berbentuk cair dalam satu hari dan berlangsung kurang dari empat belas hari. (Soegijanto, 2002).

Diare merupakan suatu keadaan pengeluaran tinja yang tidak normal, biasanya ditandai dengan peningkatan volume, keenceran serta frekuensi buang air besar lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa lendir dan darah. (Hidayat,2006)

  1. B. ANATOMI FISIOLOGI

Usus Besar

Usus besar terdiri dari :

Kolon asendens (kanan)

Kolon transversum

Kolon desendens (kiri)

Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.

Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya lendir dan air, dan terjadilah diare.

Rektum & Anus

Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Biasanya rektum ini kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB). Orang dewasa dan anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot yang penting untuk menunda BAB.

Anus merupakan lubang di ujung saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari usus. Suatu cincin berotot (sfingter ani) menjaga agar anus tetap tertutup.

C.ETIOLOGI

Penyebab diare menurut Ngastiyah (1997) dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu :
a. Faktor infeksi

1) Infeksi enteral yaitu infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Infeksi enteral meliputi :

a) Infeksi bakteri :

(1) Golongan noninvasif (tidak dapat menembus mukosa) yaitu : Vibrio cholerae, E. coli patogen.
(2) Golongan invasif yaitu : Salmonella, Shigella, E. coli infasif, E. coli hemorrhagic dan Campylobacter.
b) Inveksi virus : Enterovirus (Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus.
c) Infeksi parasit : Cacing (Ascaris, Trichuris, Oxyuris, Strongyloides); protozoa (Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis); jamur (Candida albicans).
2) Infeksi parenteral yaitu infeksi di luar alat pencernaan makanan seperti otitis media akut (OMA), tonsilitis/tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis.

b. Faktor malabsorbsi

1) Malabsorbsi karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa); monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang paling sering adalah intoleransi laktosa.

2) Malabsorbsi lemak

3) Protein : asam amino, laktoglobulin.

c. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.
d. Faktor psikologis : rasa takut, cemas, stres. Menurut Guyton dan Hall (1997) stres mengakibatkan adanya stimulasi ke usus oleh saraf parasimpatis yang mencetuskan peningkatan motilitas maupun sektresi mukus.

  1. C. GEJALA KLINIS
  1. Anak cengeng dan gelisah

b. Suhu tubuh meningkat lebih dari 38ºC

c. Nafsu makan berkurang, mual, muntah

d. Berat badan turun

e. Membran mukosa kering

f. Nadi cepat

g. Takipnea

h. Turgor kulit tidak elastis, mata cekung, ubun – ubun cekung

i. Feces cair dengan/tanpa lendir dan darah

j. Peningkatan bising usus

k. Haluaran urine berkurang

(Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI, 2005 & Pillitteri, 2002)

  1. D. PATOFISIOLOGI

Adanya bahan makanan yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi penyerapan air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga terjadi diare. Bakteri non-patogen (bakteroides, laktobasilus, klostridium) di dalam lumen usus halus (sering disebut flora usus) dapat menyebabkan diare. Normalnya melalui proses fermentasi bakteri non-patogen usus memetabolisir berbagai macam substrat terutama zat – zat makanan dengan hasil akhir asam lemak dan gas. Metabolisme anaerob ini akan memberikan tambahan energi bagi tubuh. Akibat stasis usus, obstruksi dan malnutrisi menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah bakteri non-patogen sehingga pada proses fermentasi zat makanan menghasilkan metabolit yang tidak diinginkan oleh tubuh. Sebagai contoh : laktosa (dari susu) merupakan makanan yang baik bagi bakteri non-patogen. Laktosa akan difermentasikan menghasilkan gas lambung dan menyebabkan distensi. Akibat dari tingginya konsentrasi laktosa menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat. Keadaan hiperosmolar ini akan menyerap air dari intra selluler yang diikuti dengan peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare.
(Markum,1996).

Bahan makanan

Tdk di absorpsi                                         statis usus

Oleh lumen usus                                        obtruksi           malnutrisi

Trhdap bakteri non pathogen                    pengkatan jml bkteri difermntasi

Laktosa                                                     metabolit tdk diingkan

Difermentasi                     keadaan hiperosmolar             tek osmotik rongga usus

Gas lambung                     menyerap air                            mngkat

Distensi                             intrasel                                     penyerapan air dan elektrolit

Perstaltik usus

diare

E.PENATALAKSANAAN

Menurut Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FKUI (2005) dasar pengobatan diare adalah :

  1. Pemberian cairan

Jenis cairan

1) Cairan per oral

a) Formula lengkap (oralit) : mengandung NaCl, NaHCO3, KCL dan glukosa.
b) Formula sederhana : hanya mengandung NaCL dan Sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam.
2) Cairan parentera

a) DG AA (1 bagian larutan Darrow + 1 bagian glukosa 5% atau sama dengan cairan KA-EN 3B).

b) RL G (1 bagian Ringer Laktat + 1 bagian glukosa 5% atau sama dengan RD 5%).
c) RL (Ringer laktat).

d) 3A (1 bagian NaCl 0,9 % + 1 bagian glukosa 5% + 1 bagian Na-laktat 1/6 mol/L atau sama dengan KA-EN 3A).

e) DG 1 : 2 (1 bagian larutan Darrow + 2 bagian glukosa 5%).

f) RL G 1 : 3 (1 bagian Ringer laktat + 3 bagian glukosa 5-10%).

g) Cairan 4 : 1 (4 bagian glukosa 5-10% + 1 bagian NaHCO3 1½% atau 4 bagian glukosa

5-10% + 1 bagian NaCl 0,9% atau sama dengan N5).

b. Pemberian makanan (Dietetik)

1) Untuk anak umur <> 1 tahun dengan berat badan kurang dari 7 kg.
Jenis makanan :

a) Susu (ASI dan atau susu formula yang mengandung laktosa rendah dan asam lemak tak jenuh, misalnya LLM, Almiron).

b) Makanan setengah padat (bubur susu) atau makanan padat (nasi tim).
c) Susu khusus yaitu susu yang tidak mengandung laktosa atau susu dengan asam lemak tidak jenuh, sesuai dengan kelainan yang ditemukan.
2) Untuk anak di atas 1 tahun dengan berat badan lebih dari 7 kg. Jenis makanan :

makanan padat atau makanan cair/susu sesuai dengan kebiasaan makan dirumah.
c. Obat – obatan

1) Obat anti sekresi

a) Asetosal : dosis 25 mg/tahun, minimum 30 mg.

b) Klorpromazin : dosis 0,5 – 1 mg/kgBB/hari.

2) Obat anti spasmolitik : papaverine, ekstrak beladona, opium, loperamid.
3) Antibiotika

Diberikan bila penyebab diare diketahui :

a) Kolera, diberikan tetrasiklin 25 – 50 mg/kgBB/hari.

b) Campylobacter, diberiakan eritromisin 40 – 50 mg/kgBB/hari.

Antibiotika untuk penyakit penyerta :

a) Infeksi ringan (OMA, faringitis), diberikan penisilin prokain 50.000 U/kgBB/hari.
b) Infeksi sedang (bronkitis), diberikan penisilin prokain atau ampisilin 50 mg/kgBB/hari.

2. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

  1. a. PENGKAJIAN

Menurut Wong (2004) pengkajian anak dengan diare akut meliputi :

a. Data biografi

b. Riwayat Kesehatan

1) Penyakit yang pernah diderita (terutama penyakit infeksi)

2) Riwayat imunisasi.

Vaksin Pemberian Selang waktu Umur pemberian

BCG
DPT
Polio
Campak
Hepatitis B 1 kali

3 kali

4 kali

1 kali

3 kali

4 minggu

4 minggu

4 minggu

4 minggu 0 – 11 bulan

2 – 12 bulan

0 – 11 bulan

9 – 11 bulan

0 – 11 bulan

3) Riwayat tumbuh kembang

Tahap pertumbuhan dan perkembangan untuk anak usia 12 sampai 18 bulan menurut Soetjiningsih (1995) :

Tahap pertumbuhan :

a) Perkiraan berat badan ideal untuk usia 1 tahun dengan menggunakan rumus “umur (tahun) x 2 + 8” = 10 kg.

b) Perkiraan tinggi badan untuk umur 1 tahun = 75 cm.
c) Perkiraan jumlah pertumbuhan gigi untuk anak usia 1 tahun yaitu sebanyak 6 – 8 gigi.
d) Lingkar lengan atas ideal untuk anak usia 1 tahun = 16 cm.
Tahap perkembangan :

a) Berjalan dan mengeksplorasikan rumah serta sekeliling rumah.
b) Menyusun 2 – 3 kotak.

c) Dapat mengucapkan 5 – 10 kata.

d) Memperlihat rasa cemburu dan rasa bersaing.

Penilaian perkembangan berdasarkan Test Denver.

a) Motorik kasar : berdiri sendiri, berjalan dengan baik, membungkuk dan berdiri, berjalan mundur.

b) Motorik halus : mencorat – coret, menaruh kubus di cangkir

c) Bahasa : mengucapkan 3 kata.

d) Sosial : bermain bola, menirukan gerakan, minum dari cangkir, menggunakan sendok / garpu.
4) Riwayat pemberian makan.

5) Riwayat kesehatan lingkungan : kebersihan lingkungan tempat tinggal, sumber air bersih, ventilasi.

c. Pemeriksaan fisik

1) Kaji status dehidrasi (warna kulit, suhu akral, turgor kulit, membran mukosa, mata, ubun – ubun, suhu tubuh, nadi, pernapasan, perilaku, penurunan berat badan).

2) Observasi adanya manifestasi diare akut

a) Serangan diare tiba – tiba

b) Demam

c) Anoreksia, mual, muntah

d) Penurunan berat badan

e) Nyeri dan kram abdomen, distensi abdomen

f) Peningkatan bising usus / hiperperistaltik

g) Malaise

h) BAB lebih dari 3x sehari, konsistensi feces cair, dengan/atau tanpa lendir dan darah
3) Kaji status psikososial keluarga

4) Kaji tingkat pengetahuan keluarga

a) Pengetahuan tentang penanganan diare diruma

b) Pengetahuan tentang diet

c) Pengetahuan tentang pencegahan diare berulang

2. Diagnosa keperawatan

Berdasarkan Wong (2004) diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada anak dengan diare akut adalah :

  1. Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan melalui feces atau emesis ditandai dengan :

Data subyektif : Klien haus, mual, anoreksia.

Data objektif :

Ketidakcukupan masukan cairan per oral

•Keseimbangan negatif antara intake dan output

• Penurunan berat badan

• Membran mukosa kering

• Penurunan haluaran urine

• Penurunan turgor kulit

• Peningkatan Natrium serum

b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan melalui diare, intake yang tidak adekuat ditandai dengan :

Data subyektif :

• Keluarga klien melaporkan penurunan porsi makanan yang dihabiskan

• Kram abdomen

Data obyektif :

• Penurunan berat badan di bawah berat badan ideal

• Lingkar lengan atas di bawah ideal

• Konjungtiva anemis

• Anoreksia

• Kelemahan otot

• Penurunan albumin serum

c. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus saluran gastrointestinal.

d. Kerusakan integritas kulit perianal berhubungan dengan iritasi karena diare ditandai dengan :

Data subyektif : perubahan kenyamanan : nyeri, gatalData obtektif :
• Kerusakan pada lapisan kulit (dermis) : lesi dan iritasi kulit karena popok

• Daerah perianal lembab dan kemerahan

e. Cemas/takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan tidak dikenal, prosedur yang menimbulkan stres ditandai dengan :

Data subyektif : melaporkan perasaan cemas, ketakutan

Data obyektif :

• Gelisah

• Fokus pada diri sendiri

• Kontak mata kurang

• Mudah tersinggung

• Tremor

• Ketegangan wajah

• Peningkatan pernapasan dan nadi

• Berkeringat

f. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi, kurang pengetahuan tentang penyakit, pengobatan klien ditandai dengan :

Data subyektif :

• Keluarga mengekspresikan perasaan tidak menerima keadaan

• Keluarga melaporkan ketidaktahuan terhadap kondisi klien

Data obyektif :

• Keluarga tidak mampu beradaptasi terhadap situasi krisis

• Keluarga tidak mau berpartisipasi dalam program terapeutik klien

• Perilaku keluarga yang tidak sesuai dengan kebutuhan pengobatan dan perawatan klien

  1. Intervensi Keperawatan
  2. Dx. 1 Kurang volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang berlebihan melalui feces atau emesis.

Tujuan : Pasien mempertahankan hidrasi adekuat.

Kriteria hasil :

– Tidak ada tanda – tanda dehidrasi : turgor kulit elastis, ubun – ubun tidak cekung, pasien tidak gelisah, membran mukosa lembab, tidak ada penurunan berat badan.

– Tanda – tanda vital dalam batas normal : N = 90 – 140 x/menit, RR = 15 – 30 x/menit, S = 36 – 37ºC.

– Intake dan Output seimbang, kebutuhan cairan untuk anak usia 13 bulan = 120 – 135 ml/kgBB/hari (900 – 1000 ml/hari).

– Nilai elektrolit dalam batas normal : Na = 135–145 mmol/L, K = 3,5 –5,5 mmol/L, Cl = 98 – 105 mmol/L.

Intervensi :

1) Catat Observasi Intake Output setiap 24 jam.

R/ Mengetahui status dehidrasi dan mengevaluasi keefektifan intervensi.
2) Timbang berat badan anak setiap hari.

R/ mengobservasi dehidrasi.

3) Ukur tanda – tanda vital dan evaluasi turgor kulit, membran mukosa, status mental.
R/ mengobservasi dehidrasi.

4) Beri tahu keluarga untuk memberikan anak minum secara bertahap.
R/ meningkatkan hidrasi.

Kolaborasi :
5) Berikan larutan rehidrasi oral (oralit).

R/ rehidrasi dan pengganti kehilangan cairan melalui feces.

6) Berikan dan pantau cairan IV sesuai indikasi (kolaborasi).

R/ pengganti kehilangan cairan.

7) Observasi hasil pemeriksaan elektrolit.

R/mengetahui tingkat hidrasi dan keefektifan intervensi.

b. Dx. 2 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kehilangan cairan melalui diare, intake yang tidak adekuat.

Tujuan : Pasien mengkonsumsi intake nutrisi yang adekuat.

Kriteria hasil :

– Tidak terjadi penurunan berat badan (berat badan stabil), berat badan ideal untuk anak umur 13 bulan = 10 kg.

– Makan habis 1 porsi.

– Tidak ada mual, muntah.

– Nilai Hb dan albumin dalam batas normal : Hb = 13,2 – 17,3 g/dL, Albumin

= 4 – 5,8 g/dL.

Intervensi :

1) Evaluasi status nutrisi dan penurunan berat badan

R/ Mengindentifikasi kebutuhan untuk intervensi selanjutnya.

2) Beritahu dan motivasi ibu/keluarga untuk melanjutkan pemberian ASI.

R/ ASI mengurangi kehebatan dan durasi penyakit serta memberikan tambahan nutrisi.

3) Beri tahu ibu untuk memberikan anak makan dalam porsi kecil tapi sering
R/ meningkatkan intake makanan.

4) Observasi dan catat respon terhadap pemberian makan.

R/ mengetahui toleransi terhadap pemberian makanan.

Kolaborasi :

5) Berikan diet yang tepat sesuai indikasi.

R/ memberikan diet yang tepat sesuai kebutuhan tubuh dapat mengurangi diare dan memperbaiki status nutrisi. Kebutuhan kalori anak umur 1 tahun = 100 – 200 kkal/kgBB/hari, kebutuhan protein = 15 g/hari, kebutuhan lemak = 15 – 20% energi total.
6) Observasi nilai laboratorium khususnya Hb dan albumin.

R/ menurunnya nilai hemoglobin menyebabkan distribusi nutrisi oleh darah keseluruh tubuh menurun. Albumin merupakan komponen protein yang membentuk lebih dari setengah protein plasma.

c. Dx. 3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus saluran gastrointestinal.

Tujuan : Pasien tidak menunjukkan infeksi gastrointestinal.

Kriteria hasil :

– Tanda – tanda vital dalam batas normal : N = 90 – 140 x/menit, RR = 15 – 30 x/menit, S = 36 – 37ºC.

– Nilai leukosit dalam batas normal : 6000 – 17500 /µL.

Intervensi :

1) Ajarkan orang tua klien cara mencuci tangan yang benar.

R/ mencegah penyebaran infeksi.

2) Beritahu orang tua untuk memakaikan popok dengan benar dan sekali pakai.
R/ Mengurangi kemungkinan penyebaran feces dan menurunkan kemungkinan terjadinya dermatitis karena popok.

3) Beritahu keluarga untuk melakukan tindakan perlindungan infeksi terhadap anak seperti mencuci tangan sebelum berinteraksi dengan anak dan sebelum memberikan

makan, menjaga kebersihan diri ibu terutama sebelum memberikan ASI.
d. Dx. 4 Kerusakan integritas kulit perianal berhubungan dengan iritasi karena diare.
Tujuan : Mempertahankan integritas kulit.

Kriteria hasil : Kulit sekitar anus tidak lecet dan lembab.

Intervensi :

1) Observasi daerah bokong terhadap tanda – tanda iritasi.

R/ menentukan intervensi yang tepat.

2) Beritahu orang tua klien untuk mengganti popok jika sudah kotor.

R/ menjaga agar kulit tetap bersih dan kering

3) Beritahu orang tua klien untuk membersihkan bokong klien dengan sabun lunak non-alkalin / sabun bayi.

R/ pencucian bokong yang tidak bersih dapat merusak integritas kulit .

Kolaborasi :

4) Berikan salep topikal sesuai indikasi.

R/ mengurangi iritasi.

e. Dx. 5 Cemas/takut berhubungan dengan perpisahan dengan orang tua, lingkungan tidak dikenal, prosedur yang menimbulkan stres.

Tujuan : Klien menunjukkan tanda – tanda kenyamananKriteria hasil :

– Tidak ada tanda – tanda distres fisik atau emosional

– Keluarga berpartisipasi dalam perawatan klien

Intervensi :

1) Berikan tindakan atau aktivitas kenyamanan pada anak, ajak anak bermain, membacakan cerita bergambar dan aktivitas yang sesuai dengan toleransi anak.
R/ mencegah kejenuhan pada anak.

2) Libatkan orang tua klien dalam aktivitas perawatan.

R/ mencegah stres yang berhubungan dengan perpisahan.

3) Berikan sentuhan, berbicara dengan anak dan stimulasi sensoris sesuai tingkat perkembangan anak.

R/ memberikan kenyamanan dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.
f. Dx. 6 Perubahan proses keluarga berhubungan dengan krisis situasi, kurang pengetahuan tentang penyakit, pengobatan klien .

Tujuan : Keluarga memahami tentang penyakit anak dan pengobatannya serta mampu memberikan perawatan.

Kriteria hasil : Keluarga menunjukkan kemampuan untu merawat anak khususnya untuk perawatan di rumah.

Intervensi :

1) Berikan informasi kepada keluarga tentang penyakit anak dan program pengobatan.
R/ meningkatkan kepatuhan keluarga terhadap program terapeutik, khususnya jika sudah berada di rumah.

2) Beritahu dan motivasi keluarga untuk melakukan tindakan pencegahan diare berulang.
R/ mencegah terjadinya diare berulang.

3) Beritahu dan motivasi keluarga cara perawatan anak di rumah dan melanjutkan program pengobatan anak yang masih didapat.

R/ keluarga melaksanakan program terapeutik secara optimal dan mencegah diare berulang.
4. Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan suatu pengelolaan dari rencana tindakan / intervensi keperawatan yang telah dibuat sebelumnya yang dilakukan secara mandiri dan berkolaborasi dengan tim kesehatan lain.

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi merupakan proses akhir dari asuhan keperawatan dimana hasil yang diharapkan sesuai dengan kebutuhan klien dan keluarga :

a. Klien mempertahankan hidrasi adekuat / intake cairan yang adekuat : tidak ada tanda – tanda dehidrasi : turgor kulit elastis, ubun – ubun tidak cekung, pasien tidak gelisah, membran mukosa lembab, tanda – tanda vital dalam batas normal : N = 90 – 140 x/menit, RR = 15 – 30 x/menit, S = 36 – 37ºC, intake dan output seimbang, nilai elektrolit dalam batas normal : Na = 135–145 mmol/L, K = 3,5 –5,5 mmol/L, Cl = 98 – 105 mmol/L.
b. Klien mengkonsumsi intake nutrisi yang adekuat : tidak terjadi penurunan berat badan (berat badan stabil), makan habis 1 porsi, tidak ada mual, muntah, nilai Hb dan albumin dalam batas normal : Hb = 13,2 – 17,3 g/dL, Albumin = 4 – 5,8 g/dL.
c. Klien tidak menunjukkan infeksi gastrointestinal : tanda – tanda vital dalam batas normal : N = 90 – 140 x/menit, RR = 15 – 30 x/menit, S = 36 – 37ºC, nilai leukosit dalam batas normal : 6000 – 17500 /uL.

d. Klien mempertahankan integritas kulit, kulit sekitar anus tidak lecet dan lembab.
e. Klien menunjukkan tanda – tanda kenyamanan, tidak ada tanda – tanda distres fisik atau emosional, keluarga berpartisipasi dalam perawatan klien.

f. Keluarga memahami tentang penyakit anak dan pengobatannya serta mampu memberikan perawatan, keluarga menunjukkan kemampuan untu merawat anak khususnya untuk perawatan di rumah.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN DAN SARAN

Akibat dari tingginya konsentrasi laktosa menyebabkan tekanan osmotik dalam lumen usus meningkat. Keadaan hiperosmolar ini akan menyerap air dari intra selluler yang diikuti dengan peningkatan peristaltik usus sehingga terjadi diare.

Disarankan bagi penderita diberikan :

1) Cairan per oral

a) Formula lengkap (oralit) : mengandung NaCl, NaHCO3, KCL dan glukosa.

b) Formula sederhana : hanya mengandung NaCL dan Sukrosa atau karbohidrat lain, misalnya larutan gula garam, larutan air tajin garam, larutan tepung beras garam.
2) Cairan parenteral

DAFTAR PUSTAKA


1. Betz Cecily L, Sowden Linda A. 2002. Buku Saku Keperawatan
Pediatik, Jakarta, EGC
2. Sachasin Rosa M. 1996. Prinsip Keperawatan Pediatik. Alih bahasa :
Manulang R.F. Jakarta, EGC
4. Arjatmo T. 2001. Keadaan Gawat yang mengancam jiwa, Jakarta gaya baru

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

  • Kalender

    • Agustus 2010
      S S R K J S M
           
       1
      2345678
      9101112131415
      16171819202122
      23242526272829
      3031  
  • Cari